Teori Hidup Pt.1
Sebagai seorang anak perempuan berusia belasan tahun
– read:menuju usia 20tahunan -, aku hanya tau dunia apa saja yang aku inginkan.
Mengumpulkan keberanian untuk menghadapi faktanya semua orang lebih
menginginkan mencari uang sebanyak-banyaknya. Aku pun begitu. Dengan banyak hal
yang aku perlukan sesegera, dan ada juga yang hanya aku inginkan namun rasa
jatuh cinta terhadapnya melebihi sebuah kebutuhan. Fatal, namun yang ada
dipikiranku hanya “Biarlah, aku masih muda. Bahkan masih anak-anak”
Sebagai seorang anak perempuan juga tau betul, dari
kecil sudah dididik sedemikian rupa untuk menghadapi sebuah fakta –jika ada
umur kedepannya- untuk menghadapi sebuah dunia yang lebih besar dari dunia
muda. Dunia bahwa perbandingan harga berbeda 1000 rupiah lebih murah saja
dipikirkan setengah mati. Dunia yang ada seseorang asing tak terlintas dalam
pikiran namun kenyataannya orang itu yang akan mengisi harimu selanjutnya.
Dengan orang itu kamu perlu menghadapi dunia yang lebih besar bersama, bekerja
sama, demi sebuah hidup penuh kedamaian.
Banyak perempuan yang sudah menyerah dengan cita cita
tingginya karena orang itu, ada yang benar benar menyerah karena suatu kondisi,
tetapi ada juga yang dengan percaya dirinya menjemput waktu sesegara mungkin
untuk bersama orang itu. Sebagai anak perempuan, aku terkadang berpikir salut
dengan kaum yang sudah siap dengan takdir setiap wanita itu.
Aku tau juga, bahwa realita itu akan terjadi –jika
aku ada umur kedepannya- dengan diriku
sendiri. Tapi kenapa aku merasa khawatir dari umur sekarang? Ke khawatiran ini
adalah belum siapnya pikiranku dan semuanya jika masa itu lebih cepat datang.
Memang aku kali ini benar benar berusaha membebaskan diri. Berpikir untuk
berkelana sendirian. Tapi, kenapa aku berpikir bahwa yang aku lakukan ini
adalah bentuk pemberontakan? Jika aku berusaha kuat menghilangkan kenyataan aku
menyadari realita ini, semakin pula yang aku perbuat sekarang dan selanjutnya
itu adalah sebuah pemberontakan. Lalu bagaimana mengatasi ke khawatiran ini?
Kembali lagi pada poin pertama, aku fokus mencari
uang sebanyak banyaknya. Akan sangat berbohong jika aku katakan melakukan semua
ini bukan karena faktor uang. Ya meskipun ada juga motivasi lainnya. Aku hanya
ingin melebarkan sayapku menuju langit yang sudah ku impikan dimulai dari
sebuah ruangan yang sangat nyaman untuk diriku. Sebuah cita-cita yang agak
berlebihan. Dengan melibatkan rasa jatuh cinta ku pada hal yang kuinginkan
namun bukan termasuk bagian kebutuhan penting apalagi cita-cita. Laki laki
sipit berparas tampan –bagiku- yang sudah semakin hari meracuni pikiranku,
bahkan berpikir aku ingin hidup bersama salah satu laki laki seperti itu. Ya,
aku juga berpikir hal ini pun adalah salah satu bentuk pemberontakan bagiku.
Pemberontakan dari kekhawatiran berlebihan supaya masuk dunia imajinasi tidak
dengan menyadari realitanya seperti apa. Ironis memang.
Lalu bagaimana mengatasi kekhawatiranku? Aku kembali
lagi membuka perjalanan panjang yang akan aku lalui demi sebuah cita-cita.
Karena kupikir hidupku hanya sekali. Jangan menua tanpa sebuah kesan terindah
dalam hidup sendiri. Berpahit-pahitlah menghadapi apa yang akan di hadapi
kedepannya atas nama cita-cita. Disamping sebuah cita-cita pun akan aku lakukan
petualangan hobiku mengembangkan sikap empatiku untuk membuka lebar dan sangat
jauh sekali pandangan kenyataan di muka bumi ini. Paling tidak memahami saudara
se negeri ini. Karena kupikir “kapan lagi aku melakukan hal semenarik ini
dikemudian hari jika bukan pada masa mudaku?”
Katakanlah aku sudah mulai. Dengan bekal seadanya
melesak masuk ke ruangan yang ku anggap sangat nyaman. Dengan ilmu bersih
pembawaan bekal seadanya, aku mencoba mendesak kerja otakku untuk menyadarkan
betapa pentingnya aku benar benar mempelajari semuanya,selanjutnya, tentang
ilmu pengetahuan zona nyamanku. Bukankah aku sendiri yang mengatakan itu adalah
zona ternyaman dalam masa pengenalan diriku sendiri bukan? Maka dari itu aku
harus bersemangat semuanya, selanjutnya. Selamat berjuang anak perempuan!
Lalu mengenai petualangan hobiku, aku juga sangat
memerlukannya! Bagaimana bisa aku hidup benar benar terus merasa menyendiri
dengan bodohnya aku tidak belajar sama sekali tentang bagaimana muka bumi ini
perlu dinilai dari banyak sudut pandang. Karena sebuah sudut pandanglah yang
akan membawa menuju kedamaian. Namun sudut pandang pun bisa menjadi sebuah
ancaman. Dan aku perlu berpetualang menghadapi dan mempelajari entah sudut
pandang kedamaian, atapun sebuah ancaman.
Kembali lagi dengan zonaku, zona ternyamanku, zona
yang kujadikan harapan hidup penuh kesan bagi diri sendiri. Zona yang cukup
menghasilkan pundi pundi rupiah. Zona ini pulalah yang membawa ke entah
menyelesaikan rasa jatuh cintaku pada keinginan bodohku –laki laki sipit
berparas tampan itu-, atau petualanganku, dan tentu kebutuhan pentingku. Zona
ini pula yang menyadarkan bahwa betapa pentingnya aku lebih mempersiapkan diri
menghadapi kemungkinan diluar pemikiran yang akan terjadi. Memahami karakter,
memahami situasi, mencari solusi, dan memahami kekacauan diri. Kacau merasa
bersalah, kacau perlu melakukan apalagi selanjutnya, kacau merasa ingin
mengurung diri, kacau ingin melarikan diri, kacau tak tau apalagi yang perlu
dilakukan.
Jangan khawatir, Karena badai pasti cepat berlalu.
Karena badai akan meredam. Karena badai juga bisa bermanfaat menjadi hujan
rintik-rintik yang menjadikan sebuah sumber air kehidupan yang dinanti umat
manusia muka bumi ini. Jika dirimu merasa menjadi bencana sekitarmu, kau perlu
mencari celah supaya kau masih bisa menjadi orang yang bermanfaat. Memang tidak
mudah, tapi percayalah dengan dirimu sendiri.
Zona nyamanku, aku benar benar bersyukur dengan zona
ini. Diriku merasakan sesekali orang sekitar memperhatikan diriku yang seperti
ini adanya, penyuka drama korea, penyuka para barisan oppa, panikan, kurang
sabar, dan mungkin mereka mengetahui sisi dimana aku sendiri kurang tau itu
apa. Bahkan pernah sesaat ku bercerita apa adanya diriku pada seseorang
panutanku, ia memberi banyak motivasi dan bisa bisanya ia mempercayai sesuatu
yang tidak kupercayai saat itu. “Saya
percaya kamu pasti bisa”. Padahal saat itu adalah masa dimana ku merasa
tidak tau lagi harus mencari solusi kemana. Dan Karena itulah aku membentuk
kepercayaan diri sendiri. “Kamu pasti bisa di, bahkan orang lain bisa bisanya
percaya sama kamu”
Intinya, semuanya
perlu proses. Batas kesabaran seseorang memanglah berbeda, bahwa akupun bisa
kok semarah marahnya sampai mengeluarkan kata yang tidak pantas jika semuanya
menurutku sudah keterlaluan. Orang orang yang tidak bersyukur dan mengeluh,
perlulah sekali lagi merenungi sebuah proses bagaimanapun kamu perlu syukuri
hal itu. Sekarang prioritas permohonan pada Allah adalah “Ya Allah, lancarkan
semua yang sudah kulakukan ini”. Bukannya “Ya Allah, apa yang harus saya
lakukan saat ini” . Beranilah mengambil langkah apapun! Allah sudah tau rencana
mana yang terbaik untukmu. Semangatlah, berfikirlah positif!
Bentar, maafkan tiba tiba post ini yang jarak waktunya gak jauh dari
kemaren. Soalnya ini gue buat tulisan pas udah lebaran gitu ya pas gue lagi
melankolis. Merasa teori hidup yang pernah gue tulis ini pengen gue pos,
akhirnya gue pos sekarang dengan tambahan sedikit yang ngikutin alur tulisan
dari awal. (Padahal pusing ngeakhirin tulisan ini bagusnya gimana hahahaha)
Semoga bermanfaat
Komentar
Posting Komentar