Quarter Crisis Life


Ini bukan tentang tulisan sang ahli psikologi, bukan. Hanya sebagai media berpendapat tentang Quarter Crisis Life.

Jadi gue dengan terus berselancar di sosmed, atau platform lain. Mendengar banyak cerita, membaca banyak cerita, dan jadi tau bahwa setiap anak manusia yang menjelang kedunia “dewasa” akan terserang ini semua, Quarter Crisis Life. Sedikit yang gue baca-baca, banyak artikel menyebutkan rentang usia 20-30 tahunan. Atau ada yang bilang berlakunya dari umur 25 tahun.

Entah kenapa gue merasa bahwa usia itu kadang terpatahkan seiring perkembangannya zaman. Begini, ini bisa dikaitkan dengan pandangan kaum “orang tua” pasti sering denger nih

“Ah anak jaman sekarang gitu aja payah, dulu sampe bla bla bla baik-baik aja”

Hmm. Iya sih gue pribadi ngerasa ada beda. Kaya ada dinding aja antara generasi tua dan generasi muda. Kebetulan, zaman sekarang ini udah beragam masalah. Gue rasa juga salah satunya dengan perkembangan teknologi dimana timbul juga beragam tenaga ahli yang baru. Tekanan yang beda antara pembatas generasi tua yang masih ada aja kurang paham dengan generasi muda. Begitu juga sikap ke superioran generasi muda yang kurang ajar sama generasi tua. GAK SEMUA KOK, TAPI ADA AJA.

Sedikit menyinggung lah, ada aja murid yang menghajar gurunya. Ada aja seorang anak yang berani memukuli orang tuanya karena tak dituruti keinginannya. Tak lupa ada aja para generasi tua yang bertindak tidak-tidak, membentuk anak seperti “bonekanya” alih-alih karena “dulu aja keren kok kalo jadi begitu”. Ada dinding banget kan antara generasi tua dan generasi muda?

--

Disini gue boleh nulis gak kalo sekarang dah gabegitu berlaku usia 20-30 an atau yang dimulai dari 25 an? Soalnya dalam konteks “dinding pembatas” ini banyak banget kasus anak muda masih belasan tahun aja udah kena. Mempertanyakan eksistensi dirinya buat apa hidup, mempertanyakan apakah jalan yang ia tempuh sudah benar. Belum dengan godaan ini itu disampingnya. Belum lagi kalau kebetulan generasi “tua” sekitarnya yang terlalu “kolot” gak transparan pandangannya terhadap anak muda.

Contoh aja ada kok para generasi tua yang tipikal “perempuan ngapain kuliah tinggi-tinggi, kerja mengejar karier tinggi kalo akhirnya dirumah, didapur, mengurus anak aja”

Hey ayolah sekarang udah banyak kok profesi apapun setara gak pandang gender. Mau sampe kapan gitu terus statement nya?

Ngomong-ngomong pendidikan makin lama makin “susah” katanya ya? Contoh aja masa sekolah saat menjelang UN sering banget dinaikin tingkat kesulitannya, herannya jadi ajang uji coba aja terus sampe botak *eh. Ini juga yang kalau gue boleh bilang salah satu parameter pendukung bahwa umur belasan tahun juga udah bisa ngerasa tidak baik-baik saja. Wajar, parameter anak dikatakan membanggakan atau tidak ya salah satunya diliat dari nilai, raport atau UN misalkan.

Sering kali terlihat dari pandangan ketika satu persatu menjelaskan mimpi masing-masing. Gue sendiri juga kerasa ya, pasti ada aja perbedaan cita-cita dari waktu kecil, SD, SMP, SMA/SMK, Kuliah. Belum lagi udah banyak kasus bahwa anak muda sekarang sudah mengenali bagaimana “sakit karena terlalu berekspektasi”. Pernyataan yang kira-kira “Bermimpilah setinggi langit jika engkau jatuh akan jatuh diantara bintang-bintang” juga bermunculan pada gak percaya. Salah satunya gue soalnya wkwkwk

Ya contoh aja ekspektasi kecil perihal “besok sekolah gak kali ya ulangan” eh taunya ulangan mendadak juga kadang bikin kesel kan? Memang sih hikmahnya “anda harus senantiasa terus belajar” tapi emang gak cape apa terus-terusan belajar? Ya ganti-ganti lah waktunya. Gitu.

Anak muda ini yang pelan-pelan menyadari, hidup tak tentang ekspektasi saja. Satu-persatu bisa saja tujuannya tidak realistis, misal saja yang bercita-cita menjadi dokter dengan ekonomi yang kurang mampu mau gak mau melepas cita-cita itu. Atau bisa saja ekspektasinya terealisasi, eh tau-tau pas udah masuk kuliah “Gila pusing bener ini belajar Anatomi Tubuh serta istilah-istilah lainnya”

Itu juga bisa jadi pertanyaan baru buat anak muda ini :
“Gue beneran disini bagusnya kan? Apa dimana yang bagus?”
“Gue lagi ngapain sih sekarang?”
“Kok gue b3g0 sih kagak bisa masuk ini pelajaran ke otak?”
“Gue salah jurusan kayaknya”
“Yah duit tak mengakomodasi, harus banting setir.”

Ini apa bener karena anak muda jaman sekarang lemah? Gampang menyerah? Atau gimana?

Tapi itu semua gak juga. Gue belajar, tiap orang punya takarannya masing-masing. Gue, patah hati tentang diri sendiri juga pernah (dan masih) sesakit itu dan dalam kacamata gue “selebay” itu seakan-akan cuma gue aja yang kesakitan. Kawan-kawan yang lain, ada juga selain tentang dirinya ia juga terkendala tentang orang sekitarnya. Perlu mengorbankan dirinya untuk orang lain.
Intinya, gak adil aja sih bagi gue buat banding-bandingin masalah si A si B si C dan yang lainnya.

Gue rasa wajar aja manusia buat “ngeluh”, “kesel”, “marah”, “ingin berkata kasar” dan yang lainnya. Biasanya ini opsi yang sering kali dilakukan manusia, seriusan gue aja tiap hari begini kayaknya wkwkwk. Yang penting berusaha bangkit lagi biar pikirannya kembali positif. Semangat ! 😊

--

Quarter Crisis Life juga buat kawan-kawan yang sekiranya mulai melihat sekitar punya pasangan, sedangkan dirinya belum. Atau yang ditekan lingkungan sekitar. INI BUKAN KASUS GUE, tapi sebagian kecil suka ada aja gue denger. Mempertanyakan apakah dirinya layak berpasang-pasangan, layak dicintai dan mencintai atas cinta pada-Nya. Mungkin bertanya juga kenapa jalan percintaannya tak semulus jalanan tol tanpa bolong-bolong. Hmm no comment buat perihal ini. Saya sama sekali tak begitu paham ya. Ehe

--

Kalo dah jatoh gimana? Tiap orang punya cara mengekspresikannya. Ada yang gak tahan dipendam sendirian, ada yang perlu cerita-cerita dengan kawan kepercayaan sekitarnya (salah satunya gue), bahkan ada yang benar-benar menyembunyikannya secara rapat. Rentang waktunya juga ada yang cepet bangkit, ada yang lama bertahun-tahun juga. Salah satu hal yang gue sering denger adalah, move on dengan cara memahami rasa sakit itulah dengan akhir kata “ikhlas”.

Santai aja, semuanya akan indah pada waktunya. Semua punya timelinenya masing-masing. Belajar setidaknya merangkak pelan terlebih dulu lah, lalu perlahan stabil naikan lagi temponya sampe bisa “berlari”.

Terdengar sebuah kalimat simple, tapi BUSET SUSAH BANGET HERAN

Ya akhirnya dibanding terus-terusan sakit sama ekspektasi, yaudah jalani realita. Contoh gue, “gimana dulu lah cara bertahan hidup sambil memulihkan cepat ‘sehat’”.

--

Lantas, kenapa kita repot-repot berlebihan memikirkan ini itu ketika ternyata kita akan kembali ketanah suatu saat nanti? Ini juga jadi PERTANYAAN BESAR ketika gue berada di alam gunung hutan misal. Disana salah satu tempat terbaik untuk merenung, menikmati hidup juga bahwa kita manusia adalah bagian dari alam semesta. Dan, bonusnya bersyukur atas karunia-Nya yang indah.
Bisa gue simpulkan, jangan lupakan juga perihal spiritual masing-masing. Gak mengejar dunia melulu. Ehehe.

--

Sebelum selesai, ada seseorang yang bilang “Sebenernya gawat buat generasi kalian sekarang itu cuma sekedar bisa sewajarnya buat diakui orang. Bahaya, kalian kapan jadi orang profesionalnya”.

Semoga gue pribadi tidak seperti ini. Kawan-kawan juga semoga. Mungkin masa lalu pernah, kalau untuk sekarang tidak. TEPATNYA TIDAK TAU DAN TIDAK PAHAM SEBENERNYA SAYA BERADA DIMANA DAN LAGI NGAPAIN SIH :”)

Udah sih paling gitu aja tulisan ga jelas ini, ngalor ngidul seperti biasa. Dasar.
Disini, penulisnya masih belum “sembuh” soalnya.
Diakhiri dengan, ekspektasi gue cuma “gue bisa sembuh, dan perlahan merangkak kembali lagi” ehe



Komentar

The Most Beautiful Moment in Life
Forever , We Are Young. Even when i fall and hurt my self, I keep running towards my DREAMS - BTS, Young Forever