Salah Mengira Emosi



Orang-orang taunya Emosi itu artinya perasaan marah dari seseorang. Eh ternyata, bukan loh. Ini artinya emosi itu :
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu”- wikipedia


Nah artinya, Emosi itu bukan berarti cuma amarah aja. Tapi juga, melingkupi seluruh perasaan manusia entah senang, sedih, atau yang lainnya.

“Sedikit informasi, ada 7 dasar emosi yang melekat pada manusia : Kebahagiaan, Kesedihan, Ketakutan, Jijik, Marah, Kaget atau Terkejut, Emosi lainnya (Merasa Terhibur, Malu, Merasa Bangga, Merasa Bersalah, Merasa Terhina, dll)” – HelloSehat.com


Emosi itu juga sering kali datang dan pergi tanpa izin. Bikin orang tiba-tiba berubah, yang sering kali disederhanakan kiranya “labil”. Seringkali terjadi pada kaum remaja tanggung, remaja menuju dewasa, orang-orang yang berjuang dengan krisis kehidupannya sendiri.


--

Gue bukan mau ngejelasin ilmiahnya, orang bukan ahlinya. Gue pengen berpendapat aja gitu. Ehehe.

Manusia juga gak lepas dari perasaan. Ya itu sering kali berubah, tergantung parameter yang ngetrigger dirinya seperti apa. Misalkan, bahagia karena pencapaian orang tersebut terlaksana. Atau sedih karena tak sesuai ekspektasi orang tersebut. Dan gak selamanya juga parameter itu linier satu sama lain. Banyak juga parameter lainnya yang sering kali mirip - mirip.

Kadang kala, ini yang bikin orang-orang jadi salah paham. Karena bagi gue yang awam, seringkali parameter itu gak selalu bisa diartikan secepat itu. Contoh, Gesture kepala nunduk bukan berarti malu aja. Bisa jadi ketakutan. Contoh lagi, Orang tiba-tiba malas merespon bantuanmu. Belum tentu orang itu kesal sama dirimu.

Orang-orang juga pasti punya alasan tersendiri yang gabisa dijelasin kenapa dirinya tiba-tiba gitu. Kadang orang juga milih diam kenapa dirinya begitu, bisa jadi takut salah, bisa jadi emang malas aja menjelaskan, atau hal lainnya. Ya artinya punya sisi tersendiri, belum tentu benar bagi dirimu, belum tentu benar bagi orang lain, dan belum tentu benar bagi kebenaran itu sendiri.

Oh ya, gue simpulkan rata-rata parameter “Ujian” yang bikin emosi cepat berubah biasanya : keadaan lingkungan nyata (misal jalanan macet total), keadaan Fisik yang kurang baik, atau biasanya juga keadaan lingkaran entah kuliah/sekolah, lingkaran rumah, lingkaran kantor. Dan lain-lain yang biasanya disebut “Ujian” juga

Sering kali nih tiap hari pasti ada aja juga parameter yang pedes yaitu : Omongan orang lain. Brrr

--

Sabar, sikap positif yang sering kali saran klise. Sabar, representasi orang-orang yang sering kali dianggap orang baik. Orang-orang juga tau kalo emosi negatif mereka menghampiri, sering kali menyarankan dirinya sendiri atau disarankan sekitar untuk selalu sabar. Dan bagi gue, kayaknya dengan sabar juga sering kali dianggap orang itu sudah bijak dewasa gitulah. Hmm

Bagi gue, sabar ini juga cukup sulit. Orang-orang hebat yang memang beneran bisa sabar. Gue kenapa sebelumnya nulis “klise” karena banyak kok orang tau teori itu. Tapi sulit diaplikasikannya. Sering kali juga jadi batas yang sulit buat orang-orang tertentu. Ya karena kalo nunjukkin gak sabar, cepet aja dicap “orang negatif” sama sekitar. Haduh.

Padahal, manusiawi jika lo marah. Manusiawi jika lo kesal, sering mengeluh. Itu merupakan bentuk output emosi lo atas keadaan. Bukan berarti orang marah, kesal, sering ngeluh jadi orang negatif dongs. Udah tau kan teori manusia memang diciptakan tidak sempurna? Kalau manusia sempurna, udah adem ayem nih dunia pasti orang-orangnya sabar semua. Luar biasa :v

Karena, gue rasa kalau terus-terusan sabar juga suatu saat manusia itu juga mencapai limitnya. Bahayanya, meledak parah. Makanya, sering kali kejadian mental illness yang mendadak hadir itu juga bisa jadi karena emosinya meledak parah. Jadilah mengarah ke mental. Ya itu tadi, karena orang sabar menekan perasaan kesal, marahnya secara terus menerus. Haduh

Yang penting sih masih dalam tahap wajar berusaha tidak berlarut-larut. Entah kenapa, sepengalaman gue juga awalnya meledak kesal sama seseorang misal. Tau-tau nanti juga jadi bodo amat sama orang itu lagi. Karena jadi semacam udah paham “ah emang gitu orang itu tuh” . Apa ya bisa gue sebut sabar ngadepinnya setelah gue kesel sama itu orang misal. wkwkwk

--


Penting banget kita terus belajar dasar-dasarnya gini. Ya karena salah satu jalan juga tentang “Self Acceptance”. Penting banget juga sih buat saling komunikasi, takut-takut salah kaprah emosi satu sama lain.

Yuk saling belajar aja satu sama lain! 😊

Komentar

The Most Beautiful Moment in Life
Forever , We Are Young. Even when i fall and hurt my self, I keep running towards my DREAMS - BTS, Young Forever