Menghargai apa sama dengan Meyakini


Tulisan sedikit terlambat, tapi pengen banget gue berpendapat. Sesuai judul, ini cukup berelasi dengan kejadian yang berulang kali diperdebatkan. Antar ulama Islam bisa gue sebut ada dua kubu. Tidak mempermasalahkan untuk mengucapkan Hari Natal pada yang merayakan, dan Ada yang mempermasalahkan bahkan ngerinya sampai mengatakan bahwa itu haram. Lalu, kawan-kawan masuk tim manakah?

--

Sedikit bercerita, gue hidup dalam lingkungan yang ya pembelajaran Islamnya bikin bingung sendiri kadang. Beberapa pengajaran ada yang sampai semacam dicampur dengan adat istiadat lokal. Ada juga yang diluar nalar terkadang. Tapi, gak gimana-gimana sama umat agama lain. Ya contoh kalau Kristen hendak merayakan Hari Natal, ya lingkungan seperti biasa mengucapkan selamat. Dan membuat -misalkan tetangga- mereka yang beragama Kristen pun turut senang. Ah indahnya.

Karena, segimana gak ngerti sama ilmu-ilmu agama yang diajarkan dari terdahulu gue (yang gue gapaham sama sekali, masa ada pantangan misal hari selasa gaboleh kemana-mana yakali) yang terpenting diajarkan itu adalah: Pelihara pikiran, Jaga ucapan, Jaga hati. Selesai

--

!MOHON KOREKSI BILA ADA SALAH KATA!

Mengutip dari Wikipedia, Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Dan menurut kepercayaan umat mereka, Yesus Kristus adalah anak Tuhan mereka.

Sekilas yang bisa gue simpulkan, dan banyak sekali berbagai ulama dengan alasan “tidak boleh mengucapkan Selamat Natal” karena khawatir menganggu iman dan aqidah umat Islam. Meyakini bahwa ada umat lain yang menyembah selain kepada Allah SWT. Hmm...

Gatau ya, kalo sekilas beberapa kawan gue yang umat Kristen ada sih yang bilang kalo urusan berdoa tetep ke Allah SWT (jadi kalo denger penyebutannya beda sama yang biasa umat Islam) gitu. Yesus Kristus ya beda lagi. Tapi mungkin kawan2 ada yang lebih tau ya perihal ini, saya gaberani deskripsikan lebih lanjut.

Kalau dalam Islam sendiri, beliau adalah Nabi Isa A.S. Ya salah satu Para 25 Nabi yang diceritakan. Kitab Injil diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Isa A.S, Dimana Kitab tersebut adalah Kitab Suci umat Kristiani. Dan ya gue sedikit berbincang dengan kawan Kristen gue dulu, mereka juga belajar kok tentang sejarah para Nabi. Sama aja perasaan. Entahlah kalau yang lain.

Nah perihal yang bener apa umat Kristiani menyembah Yesus dan yang dikhawatirkan sebagian ulama dan mengeluarkan statement “Haram”, waduh apakah dengan mengucapkan seperti itu kita langsung yakin ada umat lain yang menyembah selain kepada Allah SWT? Kan yaudah itu kepercayaan mereka, setidaknya kalau kita tidak percaya dengan hal tersebut ya hormati saja kan?

--

Lalu pada saat yang bersamaan, mengutip dari https://quraishshihab.com/article/selamat-natal-2/ . Ini lah yang entah rasa lebih related pada pemahaman gua. Adem bro.

Kira-kira beliau menjelaskan, jika niatnya untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama manusia. Itu tidak masalah.

Tidak keliru, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan mengucapkan “Selamat Natal”, bila larangan itu ditujukan kepada yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Akan tetapi, tidak juga salah yang membolehkannya selama pengucapnya arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.
--

Terus, gue nemu lagi sumber yang adem. Sila di cek youtubenya Jeda Nulis. Creatornya seorang Habib. Beliau juga mengulas tentang Ucapan Selamat Natal ini. Yang paling gue suka poinnya adalah :

-Islam memperbolehkan bahagia atas kebahagiaan orang lain dalam momentum apapun
-Mengucapkan Selamat Natal bukan berarti kita membenarkan iman mereka (mengacu pada kepercayaan Yesus Kristus sebagai anak Tuhan). Kita tetap berdiri dengan iman kita, mengucapkan hanyalah bagian dari upaya untuk membangun hubungan baik dengan umat Kristiani

--

Oke terus mereka yang memiliki keyakinan untuk tidak mengucapkan apakah dia intoleran? Gak juga sih. Gue rasa itu kembali kepada keyakinannya masing-masing. Jika ia meyakini itu, yaudah silakan. Mereka setidaknya mampu mengukur kualitas diri dari segi aqidah, imannya. Jika dirasa khawatir menganggu, ya gapapa. Yang penting juga ya gak perlu memaksakan poin yang ia percaya kepada orang yang bersebrangan dengannya.

Toleransi. Dengan beragam agama di negeri ini, udah sering denger kata toleransi. Simpel yang paling gue suka dari makna Toleransi itu adalah, seorang penikmat kopi dan seorang penikmat teh sedang bercengkrama bersama tanpa harus mencampurkan kopi dan teh untuk dinikmati bersama.

Kawan2 mau percaya tidak boleh mengucapkan, atau boleh mengucapkan. Silakan saja. Kembali kepada masing-masing. Yang terpenting, dalam perdebatan itu ada sumbernya. Tanpa harus ngotot satu sama lain.

Menghargai apa sama dengan Meyakini? Ini sebuah pertanyaan ya. Yang mungkin bisa gue jawab sedikit adalah : Kalau anda tidak meyakini hal tersebut, setidaknya kita berusaha untuk menghargai keyakinan mereka, dengan kita punya keyakinan tersendiri. Sekian

Komentar

The Most Beautiful Moment in Life
Forever , We Are Young. Even when i fall and hurt my self, I keep running towards my DREAMS - BTS, Young Forever