Young People's Strength
Dalam prediksi seperti gambar tersebut, banyak banget dong kuantitas
populasi usia produktif si muda Indonesia tepatnya. Dan itu bisa dijadiin modal
untuk negara yang punya powerfull TAPI KALO SEMUANYA BERKUALITAS.
Lantas, bagaimana menjadi manusia masa usia produktif yang berkualitas?
--
Mungkin agak basi, tapi emang faktanya setiap manusia dilahirkan di dunia
itu harusnya ada manfaat, misi, kelebihan tertentu. Dan itu jadi modal untuk
bertahan hidup sebagai manusia, ya untuk menjaga keseimbangan dunia juga. Tapi
masalahnya, setiap manusia juga seringkali menjalani kehidupan trial and
error sampai pada titik gak tau apakah dirinya lahir emang beneran ada
maksudnya? Hmmm
Faktor yang jadi penghambat salah satunya adalah, dengan tidak sadarnya
lingkungan sosial membentuk streotip misalkan si anak bisa dikatakan pintar
kalo bisa Matematika, si anak gak ada masa depan kalau terjun di bidang seni, si
perempuan harusnya nikah dan punya anak. Plis, semua punya porsinya
masing-masing ya terserah mau hidup gimana juga. Matematika bukan standar
kepintaran, Seni bisa juga jadi standar life goal seseorang. Semuanya
gak ada yang harus pas dengan streotip itu
--
Kenapa Indonesia bisa sebanyak itu prediksi usia produktifnya?
Asumsi saya, mungkin ini berlaku karena mulai zaman boomer dan
diatasnya dengan slogan “banyak anak banyak rejeki”. Apalagi pada zaman itu mungkin
juga belum ada teknologi obat sebagai langkah untuk “Keluarga Berencana, dua
anak cukup”. Kalau saya pernah berbincang dengan kawan, bisa jadi dulu salah
satu cara untuk mengembalikan populasi kala pasca peperangan yang banyak
menimbulkan korban jiwa. Sehingga, harapannya populasi kembali sediakala.
Kembali membangkitkan entah ekonomi atau sumber daya wilayah. Okelah kalau begitu
Tapi masalahnya, dunia sudah semakin beda. Slogan tersebut masih banyak
yang terbawa sampai zaman sekarang. Imbasnya hanyalah kuantitas saja yang
berkembang, sayangnya belum diimbangi dengan kualitas juga. Bisa terasa kan,
banyak kasus-kasus yang bikin pengen tampol “lu masih muda kenapa ngada-ngada
sih idupnya nyusahin orang lain aja”.
Gak jarang para “orang tua-boomer-” yang mengharapkan si anaknya
juga memiliki banyak anak, sebagai investasi katanya. Investasi masa tua supaya
ada yang ngurusin, Investasi “boneka” harapan membalaskan dendam masa muda yang
cita-citanya tak sampai. Seakan-akan
jadi kepemilikan, padahal hanya titipan.
Ya apalagi yang masih percaya slogan tersebut dengan alasan “kan enak kalo
banyak anak, bisa mau diurusin sama anak yang mana, semuanya gotong royong ngurusin
nanti pas ortunya dah tua” HADEUH
Padahal kalau belum siap bertanggung jawab untuk menuntun berkualitas bisa
bahaya juga bos. Kalau bisa, jangan sampe si anak malah mempertanyakan pada ortunya
“emang siapa yang minta saya lahir” . Balik lagi, belum tentu juga jadi orang
tua itu pas untuk semua orang. Atau tepatnya, bijaklah jika berharap jadi orang
tua, anak anda hanyalah titipan. Siaplah belajar untuk menuntunnya menjadi
manusia yang berkualitas .
--
Anak muda ini katanya harapan bangsa. Kenapa harapan? Karena dengan fisik
dan mental yang masih kuat, sehingga bisa membangun bangsa. Bahkan, contohnya
aja dalam wabah virus saat ini, biasanya kalau korbannya usia produktif lebih
cepat untuk sembuh karena imunnya beda. Tapi disisi lain jadi boomerang bisa
jadi carrier kalau gak sadar ternyata lagi bawa virus, abisnya banyak
kasus gak ketauan gejalanya. Bolehlah dikatakan “fisik yang kuat”.
Fisik dan mental yang diharapkan ya salah satunya tahan banting dan kuat
untuk menghadapi kenyataan hidup. Fokus dan energi nya masih lebih kuat.
Buktinya, banyak juga kok anak muda yang pinter-pinter tentang bidangnya
masing-masing karena itu tadi, fisik dan mentalnya sudah terlatih contoh lah
buat berkutat belajar entah baca buku berjam-jam atau menatap layar komputer
berjam-jam hanya untuk belajar.
Sayangnya dengan menjadi anak muda saat ini gak cukup dengan pintar
akademis aja, banyak banget soft skill yang diharapkan dimiliki semua
anak muda dan menyesuaikan dengan teknologi zaman sekarang. Bahasa Asing,
Berpengalaman, Berproses, Manajemen Waktu, Kepemimpinan, Team Work, Kreatif,
Public Speaking, apalagi nih. Banyak lah intinya. Ya itu tadi, karena kuantitas
manusia produktif banyak jadi tantangan lebih lagi buat anak muda sekarang buat
bersaing secara sehat, salah satunya dengan kemampuan soft skill.
--
Lantas, bagaimana menjadi manusia masa usia produktif yang berkualitas? Kenali
kemampuan pribadi. Apa yang bisa dijadikan kekuatan diri sendiri. Apa yang bisa
diandalkan dari diri sendiri. Balik lagi, setiap orang saya rasa seharusnya
sudah diberi porsi keahliannya masing-masing.
Jika sudah tau, tekuni! Okaylah jika sosial mendukung, keadaan mendukung, good
things for you. Tapi gimana kalau keadaan kurang mendukung? Walau klise,
gimanapun tetap semangat teguh pendirian dan fokus, sepertinya usahamu perlu
lebih.
Saya beri gambaran, contoh saja untuk menjadi seorang fotografer sekarang
pun menggunakan smartphone biasa juga sudah mulai bisa menekuni. Tapi ada
perbandingan jika menggunakan kamera profesional, pasti kualitas dan penggunaannya
lebih enak. Balik lagi, gak salah buat mulai menekuni fotografi dengan alat
seadanya, tapi perlu ekstra lebih untuk kreatif “gimana cara hasil biar bagus”
Gak masalah kuantitas usia produktif sangat banyak, tapi harapannya sih
bisa sebanding dengan kualitasnya. Ya minimal untuk survival diri
sendiri kan. Menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Semoga kita semua, senantiasa untuk
tetap semangat menjalani “kehidupan”

Komentar
Posting Komentar