Sesuatu yang tabu
Halo, kali ini saya mau sedikit beropini tentang hal-hal apa saja yang
dianggap tabu di Negeri kita ini. Karena beberapa kali menjadikan orang lain
jadi kurang toleran, nyinyir, atau apalah padahal tidak merugikan dirinya sendiri.
Saya tiba-tiba kepikiran nulis topik ini, gara-gara ada ketika saya beropini
lalu saya disebut “Bigotry” atau artinya “intoleran”. Wow edgy sekali,
ingin ku memaki. *eh
Sebelumnya, opini itu bebas dongs. Dan saya yakin tiap orang pasti punya
opininya masing-masing. Tiap orang juga pasti punya ilmunya sendiri kenapa
beropini itu. Entah dari ilmu pengetahuan, atau dari kemanusiaan, atau dari
ilmu keagamaan. Saya heran serius, kenapa sih masih BANYAK orang yang menganut
sistem cancelled ketika ada yang berbeda opininya dengan dia? Langsung
cap “close minded” . Padahal ada namanya diskusi dan musyawarah buat
saling ngobrolin pendapatnya. Hadeuh susah sih
--
Respect dan Support itu adalah dua hal yang berbeda. Tidak Support bukan
berarti Tidak Respect. Support itu kan mendukung, ikut terlibat memperjuangkan
misal. Sedangkan Respect ya menghargai, terserah saja istilahnya. Disclaimer
: saya gak ahli. Saya Cuma beropini.
Ya ini, berlaku sebagai poin pertama yang akan saya tulis. Komunitas LGBT.
Ini tuh sensitif banget kalo dibicarain. Apalagi di Indonesia sendiri dengan
menganut “Ketuhanan Yang Maha Esa” disila pertama aja. Kupas dikit deh, artinya
Warga Indonesia memang betul-betul menjadikan Agama sebagai pedoman yang utama.
Nah, tentu disebut topik yang sensitif karena norma-norma agama berbicara keras
menentang hal tersebut. Disebutkannya menyalahi fitrahnya manusia. Agama yang
saya anut pun berkata demikian. Bahkan saya yang dengan level newbie dalam
mendalami Agama, tentu saja merasa cukup ngeri juga. Sudah jelas tertulis pada
kitab suci Al-Quran lagi. Begini kutipannya :
“Mengapa kamu (laki-laki) mendatangi kaum laki-laki diantara manusia
lainnya, dan kamu tinggalkan istri-istri yang telah diciptakan Tuhanmu untukmu,
bahkan kamu merupakan orang-orang yang telah melampaui batas fitrah manusia.”
(QS. As-Asy-Syu’ara : 165 – 166).
Sedikit ulasan aja ya, ini bahkan tertulis pada Al-Quran. Kalau bawa-bawa
Agama tentu akan kompleks sekali. Apalagi dengan membawa Sejarah Kisah Kaum
pada Zaman Nabi Luth A.S contohnya. Saya gak sanggup lah. Cuma, sedikit bawa
aja deh ya tentang sejarah di Zaman Nabi Luth A.S . Disana tertulis aktivitas
Sodomi contohnya, seks sesama jenis. Maka dari itu Allah S.W.T murka dan
membinasakannya.
Terus apa LGBT itu serta merta tentang aktivitas seks saja? Saya rasa belum
tentu juga. Komunitas LGBT itu ada tentang orientasi seksualnya, bukan hanya
tentang perilaku seksual alias praktik Sodomi contohnya. Mengutip dari ahli
seksolog dr.Boyke menyebut bahwa 70% berasal dari faktor lingkungan, 3-5% itu
bawaan hormon, dan 30% disebabkan selama ia dikandung hingga masa pubertas. Ia
menyebut, di mana tempat tinggal seseorang, dengan siapa ia bergaul, dan
bagaimana kondisi sosial di sana sangat berpengaruh dan bahkan dapat mengubah
orientasi seksnya.
Walau ya, tidak menutup kemungkinan praktik perilaku seksual bisa saja
terjadi. Yang Heteroseksual pun contohnya muda-mudi dimabuk asmara kalo
kebablasan gak ada rem bisa melakukan aktivitas seks bebas.
Nah kalau gini gimana? Kan ada aktivitas menyimpangnya?
Saya pribadi bukan berada dalam kapasitas tersebut. Saya sih berprinsip ada
sisi dimana manusia tidak bisa menghakimi begitu saja manusia lain. Tidak
merugikan orang lain juga, jadi yang saya bisa lakukan cukup Respect saja.
Menghargai mereka pun manusia mempunyai hak yang sama : untuk dimanusiakan
tetap hidup dengan segala hak-hak
bertahan hidupnya. Kalaupun ada kerugian, saya rasa itu ditanggung
masing-masing ya.
Kesimpulannya : kalo anda memang tidak berprinsip sama dengan para
supporter kaum mereka. Yasudah jangan sampai mengusik apalagi sampai
mengujarkan kebencian. Sekian.
--
Oke selanjutnya tentang : Pilihan hidup orang soal Menikah. Nah ini nih,
bacot banget heran banyak banget Manusia Indonesia ribet amat ngurusin hal ini.
Orang baru juga masuk usia 20 udah ditanya-tanya kapan nikah. Orang gak nikah,
diomongin. Orang nikah, ditanyain kapan punya anak. Julidin soal kalo belum
punya anak mengira mandul lah. Orang
nikah dan memilih gak punya anak, diomongin juga “gak kasian gak ada yang
ngurusin nanti”. Hilih bicit
Pertama, orang memutuskan tidak menikah. Baik yang Laki-laki maupun
Perempuan. Tapi saya akan bahas dulu deh tentang Perempuan. Kayanya salah
banget ya. Seakan-akan Perempuan memang di desain khusus untuk menikah. Apalagi
Perempuan dengan stigma dirumah dengan segala aktivitas punya anak lah, disuruh
beres-beres rumah lah, atau yang masih berkaitan dengan dirumah. Padahal,
perempuan juga manusia. Perempuan juga bebas menentukan hidupnya sendiri.
Barangkali ternyata Perempuan memutuskan tidak menikah, mungkin ingin mengabdi
seperti menjadi relawan, atau ingin fokus pada pengalaman hidup pribadinya,
atau apapunlah bebas saya rasa pasti dengan alasan kuat yang gak rugi-rugi
banget kok buat memutuskan hidup seperti itu. Apalagi merugikan orang lain.
Jangan bilang perempuan yang seperti itu karena watak keras yang tak mau
kalah. Watak yang terlalu pemilih dengan kriteria pasangan. Atau emang gak ada
yang mau, atau terlalu gimana yang dianggap negatif. Gak gitu bos, perempuan
juga berhak hidup menjadi manusia, jangan dikotakan perempuan harus lemah
lembut, karena perempuan juga punya pemikirannya sendiri dongs. Katakan milih
pasangan pun, hei apakah anda tidak pernah melalui proses memilih-pilih saat
beli baju supaya muat dan pas dikenakan sesuai selera? . Gak ada yang mau?
Emangnya apaan kok perempuan berasa barang buat diliat “harus ada yang mau?”
Untuk kasus Laki-laki, saya gak terlalu paham ya gimananya. Tetap saja,
katakan saja ada stigma jelek kalau Laki-laki memilih tidak menikah pun intinya
sama kok : bukan urusan orang lain juga soal pilihan hidupnya.
--
Buat yang menikah dan memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Barangkali
ia memutuskan menikah karena memang sudah menemukan pasangan hidup yang
sefrekuensi dan menjalani visi misi bersama. Lalu kemudian memilih menikah
karena sudah paling tepat untuk hidup bersama ditambah barokah. Hei ayolah ya
gapapa juga “sepasang” itu ingin menjalani visi misi bersama? Siapa tau
tujuannya contoh tentang menyebarkan kebaikan. Tolonglah hilangkan stigma “gak
ada yang ngurusin suatu saat”. Saya rasa, katakan punya anak pun, dia bukanlah
suatu investasi. Tapi titipan.
Saya pun cukup sadar fitrahnya manusia memang butuh hidup bersosialisasi.
Butuh “teman”. Ada perasaan kesepian jika tak ada “teman”. Makanya orang
Indonesia cukup laku kalau menjual narasi-narasi tentang “berpasang-pasangan”.
Apalagi narasi tentang Menikah solusi yang paling barokah. Silakan, tapi jangan
lupa dibarengi dengan kesiapan. Ya ini tentang nikah muda. Baru usia 20 awal,
ya silakan aja mau nikah. Asal jangan merasa paling benar aja dan
mengata-ngatai temanmu yang seumur dan tidak menikah muda juga.
Terakhir, tolonglah untuk tidak sok tau. Pada orang yang sudah menikah
ternyata belum memiliki anak dan di cap “mandul” gitu aja. Tolong perhatikan
kata-katamu, bisa jadi membunuh perasaan untuk pasangan menikah yang memang
sudah menantikan lama “buah hati” ditengah kebahagiaan mereka.
--
Sekian untuk hal-hal yang saya rasa cukup tabu untuk dibahas. Temanya sama
berarti ya : kurang lebihnya tentang hal tabu dibidang orientasi seksual dan
manusiawi nya tentang berpasang-pasangan. Mohon maaf kurang lebihnya dari opini
saya ini. Sekali lagi, opini setiap orang itu wajar berbeda dongs. Kalau mau
menemui kesepakatan, ada jalan diskusi.
Salam
Komentar
Posting Komentar