Kehidupan Pribadi Milik Publik

Halo 👋 

Kali ini mau coba cuap-cuap tentang "kenapa ya, kadang kala kita hidup berasa bukan milik kita sendiri? "

Oh ya, ini diluar konteks bahwa kehidupan kita itu hanya milik Allah SWT ya. 

----

Dari kecil saat mulai masuk sekolah dasar, mungkin ada yang merasakan bahwa kok belajarnya jadi gak menyenangkan karena ada harapan harus selalu peringkat 1. Atau mungkin saat masuk SMP juga bisa saja kamu bebas mengambil ekstrakurikuler apapun, eh ada saja tetangga yang komen "Anak SMP kok pulang malem" padahal sehabis pulang ekskul itupun GAK SETIAP HARI

Contoh lain lagi ketika sudah masuk usia kepemilikan KTP. 
Jurusan kuliah pun "kok cowok masuk Tata Busana? "
Atau "kok cewek kuliah?"

Mari kita lebih angkat yang ekstrim 
"Kok gak mau nikah?"
"Kok gak mau punya anak padahal udah nikah?"

Bagi saya dengan kacamata perempuan, ini yang paling ekstrim dan super duper capek parah dengernya padahal saya aja gak ngalamin di komentarin gini. 

"Kok lahirannya gak normal"

Atau ketika ada pasutri yang program hamil tapi belum ada progress

"Ini pasti rahim istrinya yang gak bisa hamil"

HEUHHH SI ANJ*****

-----

Pertama, semua ini akarnya adalah dari pemahaman dasar tentang cara berjalannya kehidupan di muka bumi ini. Tentang ekspektasi, dan stigma tentu saja. 

Anak baru masuk usia 7 tahun di kejar target untuk selalu rangking 1 alhasil proses belajarnya jada gak menyenangkan. Ya karena, itu ekspektasi dari orang tuanya. 

Anak SMP yang mulai ada kesibukan lain diluar wajib belajar, di komentari pulang malam. Karena stigma baru aja anak SMP kok mulai berani pulang malam

Tentang jurusan perkuliahan yang sebetulnya bisa digeluti BAGI SIAPA SAJA YANG BERMINAT. Tapi tak luput dari komentar dengan contoh stigma biasanya hanya perempuan lah yang sering berkutat dalam dunia Tata Busana.  

Atau lebih di bagi tentang gender, ini terbawa stigma masa lalu yang bisa jadi dulu pendidikan bagi perempuan memang tidak terlalu seterbuka masa sekarang.

-----

Mari masuk sisi mulai ekstrim. Dunia yang mulai terasa dikelilingi ucapan itu, selamat datang di dunia orang dewasa. 

Tidak memilih menikah gak serta merta salah. Berdasarkan hak kebebasan, setiap orang BEBAS mau bagaimana juga. Tidak ada ruginya buat orang lain. Serius. 

Tidak memilih memiliki anak LAGI gak serta merta salah. Yang komen doang juga belum tentu terlibat dalam proses tanggung jawab membesarkan anak. 

Kalau berdasarkan logika saya ya. Padahal yang memilih gak menikah bisa saja bilang seperti itu merasa cukup hidup dipenuhi dengan dirinya sendiri. Padahal bisa ngurangin jumlah pesaing yang komentar untuk berpasangan *eh.. 

Ini juga tentang gak punya anak padahal udah nikah. Hidup siapa ya.. Kan mereka mungkin merasa cukup hidup berdua saja pacaran disisa hidupnya. Atau yang lebih mulai lagi, bisa saja memutuskan untuk mengadopsi karena merasa sebagai pasangan yang harus membantu anak-anak tak tahu siapa orang tua kandung mereka :") 

Bantu juga loh buat lebih ramah lingkungan. Ngerasain gak dunia makin sumpek, macet dimana-mana, produksi sampah gila-gilaan banyak. Susah cari kerja. Karena apa? Kebanyakan manusia *eh 

Stigma dunia tentang orang dewasa tuh kayanya terdengar simple buat harus nikah dan punya anak. Gak gitu konsepnya. 

------

Paling ekstrim bagi saya. Hei tolong dong. Yang baru saja dikaruniai anak tuh didoakan yang baik-baik. Ibu dan bayi sehat. Bukan dikomentari se pedas itu. 

Terus yang pasutri sedang berusaha program hamil. Kok bisa ya yang habis-habisan dikomen utamanya tuh PEREMPUAN DULU YA? berasa badan perempuan ini milik semua orang? Padahal bisa aja bukan ada dipihak perempuan? 

Saya ga bilang KESALAHAN. Karena itu udah mainannya TAKDIR. Tapi tolong, itu BUKAN KESALAHAN. Baik memang sisi dari laki-laki yang ada masalah kesehatan, apalagi perempuannya. Gak etis juga buat dikomentari

Stigma kolot itu mungkin masih tersisa ya, bahwa KATANYA lebih merasa jadi ibu kalau melahirkan normal. Padahal, itu cuma METODE DOANG dari segi proses ya SAMA AJA NAMANYA. SAMA JUGA BERJUANG. 

Nah ini yang aneh lagi sih. Sok tahu melebihi ilmu kedokteran main diagnosa kasus. Ya mungkin karena stigma perempuan (kasarnya) sebagai mesin pencetak anak harus selalu sehat kali ya? Gatau lah. 

------

Proses penyampaian informasi itu berbeda. Saya tau, bahwa dibelahan bumi ini gak semua orang akan cepat tau informasi itu. Wajar kok. 

Hanya, saya harap ketika diberi tahu informasi tersebut tuh ya tolong di dengarkan baik-baik. Biar terus belajar. Biar terus tau "oh aduh ternyata saya kurang tepat kemarin"

Jika merasa ada penolakan, ya jelaskan apa yang dipikirkan kenapa menolak. Itu juga proses belajar mendapat informasi

Tapi, kalau menyanggah atau menolak informasi semakin di kasih tau semakin marah merasa paling benar, belajar nya tuh buat menuhin isi otak atau isi ego? 

------

Yuk, sama-sama belajar bahwa hidup tuh ya yang nyetirnya ya masing-masing. Iya tau manusia makhluk sosial. Tapi gak berarti semuanya harus diurusi padahal bukan urusan kan? 

Apalagi kadang stigma dan ekspektasi tuh lebih pedih ke perempuan di Indonesia salah satunya. Kenapa? Karena cukup banyak yang masih patriarki 🙂 



Komentar

The Most Beautiful Moment in Life
Forever , We Are Young. Even when i fall and hurt my self, I keep running towards my DREAMS - BTS, Young Forever