Bijak berteknologi


Halo, 2020 sudah terlewat 1 bulan. Bener kata rangorang, Januari itu masa uji coba aja. Pantesan aja gue sampe kelupaan nulis buat stok Januari

---
Teknologi... hmm sebuah kata yang jaman sekarang gak akan ada abisnya. Nempel dimana-mana. Gue nulis begini, ada unsur teknologi. Kawan-kawan baca pun, ada unsur teknologi. Dan perkembangannya semakin cepat, pusing sumpah kalo terlalu cepat juga wkwkwk.

Singkatnya, yang paling nyata saat ini adalah sudah banyak pengguna internet tentu saja. Dan minimal untuk mengakses internet itu ya, biasanya gawainya sudah bisa terkoneksi dengan internet dongs. Tentu saja apalagi kalau bukan Smartphone. Tentu orang-orang kota jelas lah ya, internet cukup mudah diakses dimana saja. Di internet ada apa aja sih? Buanyak banget. Ya tapi yang paling rame, tentu aja media sosial.

Media sosial, artinya sebuah media untuk bersosialisasi. Bonusnya bisa bersosialisasi dengan orang-orang jarak jauh.  Ngebantu? Tentu dong. Untuk menyiasati berkabar dengan sanak saudara yang cukup jauh jaraknya misal. Kawan-kawan yang merantau dari orang tua pun, dipermudah dengan adanya media sosial untuk sekadar berkabar. Biasanya dan yang paling rame banget ya salah satunya media sosial Whats App.

Lalu ada media sosial apalagi sih? Sebut saja Instagram yang memposting hasil karya foto dan video terbaiknya, Serta twitter yang diisi forum diskusi kicauan pengguna. Sekilas ini saja yang diambil contoh ya, masih banyak sih. Cari aja sendiri lah ya media sosial apalagi yang ramai digunakan manusia jaman sekarang.

--

Apa ada negatifnya juga? Tentu ada. Tergantung perspektif dari penggunanya. Pengguna dari segi mengamati, atau ikut-ikutan memposting juga. Orang-orang bilang kalau “IG itu toxic, banyak orang-orang pamer” misal. Tapi coba kita liat sisi lain, orang itu bisa pamer juga, ya karena media sosial itu penuh dengan “citra yang ingin dibangun”. Jarang juga sih yang pamer gimana susahnya mendapatkan hasil untuk “pamer” itu. Simpelnya adalah, siapa tau dengan kita filter lagi laman berandanya, siapa tau juga hasilnya gak cuma tentang sesuatu yang kawan kurang suka, bikin iri, bikin gak percaya diri misal. Hehehe

Forum diskusi dalam media sosial sendiri. Nah ini nih, yg bikin kita para pengguna jadi banyak belajar tentang keberagaman “manusia”. Saking luasnya internet, tepatnya media sosial, orang-orang gemar dengan berbagai akun miliknya, dengan berbagai identitas miliknya, untuk berselancar entah ngapain aja.

Media sosial juga suka jadi sasaran empuk untuk menyebarkan hoax. Ini juga sebagai ujian buat para pengguna. Bijaklah untuk memilah data, jangan cuma opini semata. Data tuh apa sih? Singkatnya adalah sekumpulan keterangan sesuai fakta. Sebuah informasi-salah satunya berita- kalau ngawur ya itu bukan fakta dong. Oke?

Forum diskusi kental sekali dengan beragam komentar satu sama lain, waduh ini banyak himpunan juga ada aja yang emang cerdas, ada yang biasa-biasa saja, ada juga yang beneran pengen diajak baku hantam karena komentarnya hahaha. Simpulan dari negatifnya adalah, para pengguna media sosial bak menjelma lebih cerdas dari sang ahli bersertifikasi. Wadaw

“Suka-suka gue dong mau nulis apa”. Bukan gitu juga andai. Kalau dirimu bukan seorang ahli bersertifikasi atau minimal tau ilmu dasar tentang sesuatu, baiknya jaga jarinya ya. Jaga opinimu supaya tidak melukai orang lain. Kalau bisa beropinilah ketika kamu sudah mengetahui dasar apa yang sedang kamu argumentasikan

--

“Kenapa sih banyak negatif yang berkeliaran di media sosial”. Bagi gue, balik lagi tergantung penggunanya. Jangan lupa bahwa fakta media sosial identitasnya bisa dipalsukan. 1 orang, banyak akun wkwkwk. Saya juga termasuk yang punya akun media sosial cukup banyak, dan punya alasan masing-masing kenapa dibuat. Kawan-kawan juga kemungkinan besar punya banyak akun. Hayoloh?

Terus kalau diliat-liat, kebanyakan yang pada bacodnya melebihi akal sehat manusia (saking ngeselinnya) juga akun-akun yang jarang banget pake identitas asli ya gak sih? Iyalah, mereka berani koar-koar karena merasa aman dengan persembunyiannya “keyboard warrior” istilahnya.

Dan susah juga sih buat ngebasmi modelan begitu. Kalo orang dibalik akun tersebut udah melebihi setan kelakuannya ya, yaudah barbar aja gak disaring ketikannya. Kampret emang.

Kasian aja sih buat kawan-kawan yang kebetulan masih awam dengan suatu hal itu misal. Fenomena kemakan hoax juga dimulai dari para akun-akun sialan itu kan. Contoh yang saya ambil di twt aja deh ya, kadang dengan title “akun gede” pengikutnya banyak. Tuh akun asal jeplak aja giring opini, eh pengikutnya ikutan ngeiyain aja. Hadeuh gak sabar-sabar orang yang ngerespon bisa diajak baku hantam kan.

--

Oh ya, sebagai pengguna dari sisi perespon, perlu juga loh untuk belajar lagi lebih bijak. Jangan pernah lelah untuk mengedukasi kawan-kawan yang salah jalur lah ya, kecuali kalau yang salah jalur makin bebal setelah diedukasi wkwkwk. Orang-orang pasti akan melewati masa kesalahan terbesarnya “salah jalur menggunakan teknologi”. Siapa tau “dia” mau bertobat. Ya syukur-syukur begitu kan ya.

--

Teknologi gak cuma tentang internet yang gak keliatan dong. Begitu juga dengan alatnya. Teruntuk banyak para pengguna “Smartphone” yuk bijaklah untuk mempergunakannya sebaik mungkin. Masih berkaitan dengan internet dan media sosialnya, Internet gak pernah tutup kok, 24 jam selalu ada. Yuk bareng-bareng belajar cari cara gimana biar jadi pengguna yang bijak dari cara kita saling mencari informasi akurat. Jangan sampe loh ya, alat yang digunakan ternyata lebih pinter dari penggunanya. Kalo kasarannya gini “Smartphone aja bagus tapi penggunanya tidak smart

“Bijak berteknologi” adalah sedikit opini secara general tentang fenomena para pengguna teknologi itu sendiri. Berhubung saya ada sedikit nyambung sama urusan teknologi, tentu saja “Jangan sampe teknologi itu jadi merusak kita. Justru teknologi ada untuk mempermudah mobilitas kita”

--

Komentar

The Most Beautiful Moment in Life
Forever , We Are Young. Even when i fall and hurt my self, I keep running towards my DREAMS - BTS, Young Forever